Home|Hubungi|Lokasi
Bekerjasama dengan Atase Pendidikan dan Kebudayaan, Kedubes RI, di New Delhi, India, Lembaga Studi Realino menyelenggarakan sebuah kuliah umum bertema “Being an Intellectual in Postcolonial Countrie
Profil Kegiatan Beasiswa Publikasi Fasilitas Galeri Berita
Search
BEING AN INTELLECTUAL IN POSTCOLONIAL COUNTRIES

Lembaga Studi Realino, 13 November 2017
Foto Lembaga Studi Realino.

Bekerjasama dengan Atase Pendidikan dan Kebudayaan, Kedubes RI, di New Delhi, India, Lembaga Studi Realino menyelenggarakan sebuah kuliah umum bertema “Being an Intellectual in Postcolonial Countries. Dengan pembicara utama, Prof. Peter R. deSouza dari CSDS New Delhi, kuliah umum dimulai pada pukul 09.00 – 12.00 di Aula Lembaga Studi Realino (LSR). Dalam kuliah, hadir pula sebagai penanggap, Dr. Budiawan, dari Universitas Gajah Mada (UGM).

Peserta kuliah yang hadir sejumlah 71orang. Kebanyakan peserta adalah mahasiswa pascasarjana. Tetapi ada pula dosen/staf pengajar, terutama dari Universitas Sanata Dharma (USD) dan UGM.

Dalam kuliah itu, Prof. Peter mengungkapkan bahwa peran intelektual dalam masyarakat poskolonial, seperti di India, masih dihadapkan pada tiga kecemasan besar. Pertama, kecemasan untuk menjadi cermin bagi masyarakat. Kedua, kecemasan akan hasil evaluasi dan penilaiannya terhadap tranformasi. Ketiga, kecemasan dalam memperluas peran mereka bukan hanya sekadar sebagai aktivis, bukan pula turunannya, dan bukan hasil dari pikiran yang terkolonialisasi.

Sementara, Dr. Budiawan memaparkan suatu kajian historis tentang masyarakat intelektual di Indonesia yang notabene nyaris mengabaikan, bahkan menghilangkan, jejak langkah perempuan. Buktinya, sejarawan Saskia Wieringa menunjukkan bahwa penulisan sejarah di Indonesia masih steril dari hal dan masalah keperempuanan. Meski dengan mengutip pendapat Prof. Sartono Kartodirdjo, tak bisa dipungkiri, “sejarah memang bukan segalanya, tapi segala sesuatu punya sejarahnya masing-masing”.

Dari para peserta, ada beberapa pertanyaan dan juga pandangan yang diajukan dalam kuliah tersebut. Artinya, mereka yang sebagian besar merupakan mahasiswa pascasarjana di USD atau UGM cukup antusias untuk membahas mengenai tema yang dijadikan bahan perkuliahan umum tersebut.

 
Foto Lembaga Studi Realino.
Kuliah ditutup dengan pemberian kenang-kenangan kepada Prof. Peter dan Dr. Budiawan dari LSR. Sebaliknya, Prof. Peter juga memberikan hal serupa kepada Dr. Budiawan dan LSR.







Being an Intellectual in Postcolonial Countries
(IN) TOLERANSI WAYANG UNTUK KUASA HASRAT RAKYAT INDONESIA
Y. APRIASTUTI RAHAYU (editor)
20 November 2017 | 13:15 WIB
Being an Intellectual in Postcolonial Countries
Bekerjasama dengan Atase Pendidikan dan Kebudayaan,
7 November 2017 | 08:29 WIB
Realino Public Lecture
BEING AN INTELLECTUAL IN POST-COLONIAL COUNTRIES
28 Juni 2017 | 21:47 WIB
SRIWIJAYA DAN MASYARAKAT BHINEKA
Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) KBRI New
4 April 2017 | 13:30 WIB
Menjadi Guru Nasionalis
PPG SM-3T adalah program dari Kemristek Dikti yg bertujuan
10 Maret 2017 | 09:00 WIB
Keberatan Harus Ada Bukti Kuat
Harianjogja.com, JOGJA-Ketua Komisi Pemilihan Umum
10 Maret 2017 | 08:52 WIB
Penetapan Walikota Terpilih Tertunda
Harianjogja.com, JOGJA — Penetapan wali kota Jogja
Home | Profile | Aktifitas Realino | Beasiswa | Lokasi | Hubungi Kami | Publikasi | Fasilitas | Berita
Copyright © 2008 Lembaga Study Realino, All Right Reserved.