Home|Hubungi|Lokasi
Bekerjasama dengan Atase Pendidikan dan Kebudayaan, Kedubes RI, di New Delhi, India, Lembaga Studi Realino menyelenggarakan sebuah kuliah umum bertema “Being an Intellectual in Postcolonial Countrie
Profil Kegiatan Beasiswa Publikasi Fasilitas Galeri Berita
Search
SRIWIJAYA DAN MASYARAKAT BHINEKA


Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) KBRI New Delhi, India, dan Lembaga Studi Realino bekerjasama dengan Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat Universitas Sanata Dharma (LPPM-USD) mengadakan ceramah umum yang bertemakan “The Roles of Sriwijaya On Developing Borderless Civilization” (Peran Sriwijaya dalam Pembangunan Peradaban Nirbatas).

Selaku ketua panitia, A. Windarto menyampaikan bahwa ceramah umum ini diharapkan mampu memberikan pengetahuan terkait kontribusi Sriwijaya dalam peradaban dan sejarah Indonesia. Singkat kata, Sriwijaya memiliki arti penting bagi model masyarakat bhineka (plural society).

Ceramah yang diselenggarakan di ruang seminar Auditorium Driyarkara pada Kamis, 3 Agustus 2017 menampilkan dua pembicara, yaitu Dr. Andrea Acri dan Dr. Hudaya Kandahjaya. Dengan dimoderatori oleh Prof. Dr. Iwan Pranoto selaku Atikbud KBRI New Dehli, India, ceramah dan dilanjutkan dengan tanya jawab berlangsung selama dua jam dengan diikuti oleh kurang lebih 100 peserta. 

Dalam ceramahnya, Andrea Acri, seorang peneliti dari École Pratique des Hautes Études, Religious Studies Section, Paris, memaparkan tentang jejaring pengetahuan global yang telah terbentuk sejak masa kerajaan Sriwijaya sampai dengan Dinasti Syailendra dan bersifat lintas batas antara Indonesia, India dan Cina hingga membentuk “masyarakat bhineka” yang saling mengakui dan menghargai perbedaan kelas Sosial, Agama dan RAsial). Acri menunjukkan bahwa sistem Pendidikan yang terjadi di Nalanda (India), terjadi pula di Sriwijaya (India).

Sementara itu, dalam makalahnya yang berjudul “Srivijayapura sejak Yijing hingga Atisa”, Hudaya Kandahjaya menerangkan hubungan antara Yijing dengan Atisa yang telah menjalin relasi cukup intens dan dalam dengan para sarjana/intelektual Budhis di Sriwijaya hingga mewariskan beragam teks dan artefak di sana. Kandahjaya juga memaparkan soal ilmu astrologi yang digunakan Yijing dalam menggambarkan letak Sriwijaya yang kini tengah diteliti ulang untuk melengkapi data-data sejarah mengenai Sriwijaya.

Ceramah yang dihadiri oleh Rektor USD, Drs. Johanes Eka Priyatma, M.Sc., Ph.D, ditutup dengan pemutaran film “Belajar dari Borobudur” (Learning from Borobudur) yang diantar oleh Y. Ispurayanto Iswarahadi, S.J., selaku Direktur SAV PUSKAT, Yogyakarta. Romo Iswarahadi menerangkan bahwa dalam relief Borobudur, cerita-cerita fabel dimanfaatkan sebagai alegori (perumpamaan) dan kritik sosial terhadap kehidupan masyarakat. Sebagai penutup, menu vegetarian berupa nasi kuning dan gudangan menjadi hidangan istimewa di akhir ceramah.
 

(Lukas Agus/Lembaga Studi Realino)





SRIWIJAYA DAN MASYARAKAT BHINEKA
(IN) TOLERANSI WAYANG UNTUK KUASA HASRAT RAKYAT INDONESIA
Y. APRIASTUTI RAHAYU (editor)
20 November 2017 | 13:15 WIB
Being an Intellectual in Postcolonial Countries
Bekerjasama dengan Atase Pendidikan dan Kebudayaan,
7 November 2017 | 08:29 WIB
Realino Public Lecture
BEING AN INTELLECTUAL IN POST-COLONIAL COUNTRIES
28 Juni 2017 | 21:47 WIB
SRIWIJAYA DAN MASYARAKAT BHINEKA
Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) KBRI New
4 April 2017 | 13:30 WIB
Menjadi Guru Nasionalis
PPG SM-3T adalah program dari Kemristek Dikti yg bertujuan
10 Maret 2017 | 09:00 WIB
Keberatan Harus Ada Bukti Kuat
Harianjogja.com, JOGJA-Ketua Komisi Pemilihan Umum
10 Maret 2017 | 08:52 WIB
Penetapan Walikota Terpilih Tertunda
Harianjogja.com, JOGJA — Penetapan wali kota Jogja
Home | Profile | Aktifitas Realino | Beasiswa | Lokasi | Hubungi Kami | Publikasi | Fasilitas | Berita
Copyright © 2008 Lembaga Study Realino, All Right Reserved.