Dari BLITAR Melalui SOLO & JOGJA, Tidak Mangkir di ENDE

Dari BLITAR Melalui SOLO & JOGJA, Tidak Mangkir di ENDE

Tidak Takut Hadir  

Sumber: https://www.liputan6.com/news/read/4975554/foto-tiba-di-ntt-presiden-jokowi-akan-pimpin-upacara-peringatan-harlah-pancasila?page=6

 

Ada sesuatu yang istimewa hadir dalam perayaan nasional dari Negara-Bangsa RI  setiap tanggal 1 Juni, khususnya di tahun 2022, dan peristiwa ini dilaksanakan di Ende. Ir. Joko Widodo, Presiden RI, tidak mangkir dalam perayaan nasionalisme penting di luar Jawa tersebut.

 

Bukan kebetulan bahwa dalam rangka memperingati Hari Lahir (Harlah) dasar negara RI, pada setiap 1 Juni, di kota Blitar, dilaksanakan acara Grebeg Pancasila. Kota Blitar juga sering dinamai “Kota Patria.”  Acara perayaan yang menjadi pusat perhatian sebagian besar warga kota tempat kelahiran Bung Karno itu mirip, misalnya, Grebeg Syawalan keraton di kota Jogja atau Grebeg Sudiro dalam suasana perayaan Imlek di Kota Solo.

 

 

Namun, meski bernama sama, grebeg yang, menurut bahasa orang Jawa, berasal dari kata gumrubyug, yaitu suara gemuruh orang-orang yang berderap, bergerak bersama-sama (lihat, John Pemberton, ”Jawa”: On the Subject of “Java”, Yogyakarta: MataBangsa, 2003, hlm. 9), adalah  saat dan tempat tepat untuk sesuatu hal yang terbayangkan dan berharap untuk kebaikan yang menjelang.

 

Sebab, para warga yang ikut di sana sesungguhnya tidak saling tahu, apalagi saling kenal, satu sama lain, bahkan tidak pernah bertatap muka, dan mendengar tentang mereka. Tapi, toh di benak setiap orang yang hadir di situ hidup sebuah bayangan tentang kebersamaan mereka - nasionalisme! (lihat, Benedict Anderson, Imagined Communities: Komunitas-komunitas Terbayang, Pengantar: Daniel Dhakidae, Yogyakarta: Insist & Pustaka Pelajar, 2001, hlm. 8).

 

Sebagian besar warga yang terlihat dan hadir di situ bukan semata-mata karena impian-impian mengenai “Ratu Adil,” atau “Mesias” dan tokoh-tokoh sejenis yang pernah ada dalam cerita-certa dari masa silam.

 

Tetapi, justru pengalaman kebersamaan orang-orang yang bergairah dan hadir di sana itulah yang memicu kenangan bersama - bukan sekedar kenang-kenangan atau suvenir, atau cendera mata - dan menggerakkan hati nurani tentang cerita (dan cita-cita) dan pesan atau perintah dari tokoh yang sedang mereka kagumi dan hormati. (lihat, Takashi Shiraishi, Zaman Bergerak: Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1926, Penerjemah: Hilmar Farid, Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 1997, hlm. 90).

 

Bung Karno yang disebut juga sebagai “Penyambung lidah Rakyat” ketika merumuskan Pancasila dalam masa “Pembuangan”nya di Ende (1934 -1938) bukanlah semacam menerima wahyu ilahi yang turun dari langit. Meskipun seperti pernah diteliti wartawan Tempo, Bung Karno dari rumah Pembuangannya di Ende sangat sering berkunjung ke biara para pater SVD (Societas Verbi Divini atau Serikat Sabda Allah atau Serikat Sabda Ilahi). Dalam kunjungan ke biara SVD itu Bung Karno membaca buku-buku dan dokumen koleksi di biara, berdiskusi dan bertukar pikiran dengan Pater G. Huijtink SVD dan Pater J. Bouma SVD (Tempo, 19 Juni 2022, hlm.58).

 

Baik untuk diketahui juga, ketika dibuang atau diasingkan ke Ende, Nusa Tenggara Timur, selama empat tahun, adalah masuk akal kalau Bung Karno sempat mengenang dan memikirkan  perisrtiwa yang pernah terjadi sekitar 10 tahun sebelumnya, ketika Haji Misbach yang dikenal sebagai Haji Merah dari kota Solo - dibuang ke Manokwari - adalah tokoh sejarah pergerakan Indonesia sebelum merdeka 1945. Haji Misbach yang pada tahun 1920an di kota-kota di Jawa yang mampu mengorganisasikan vergadering (rapat raksasa atau rapat akbar) kaum petani dan buruh untuk mendengar opdracht (pesan, perintah) dan voordracht (pidato, ceramah) dari tokoh terhormat dan dikagumi dalam vergadering tersebut.

 

Maka, masuk akal jika kunjungan Presiden RI, Joko Widodo. ke Ende, NTT, dalam rangka perayaan nasional  1 Juni 2022  disambut dengan luar biasa dan tidak lazim oleh masyarakat di sana. Hal itu menunjukkan bahwa sebagian besar warga di republik ini masih merasa bahwa kepentingan dan suaranya didengarkan oleh seorang pemimpin negara-bangsa. Intinya, mereka tidak dibuang dari pikiran orang-orang yang saat ini masih menjadi penyambung lidah dan suaranya (lihat, James T. Siegel, “Yang Hilang dari Zaman Bung Karno”, Basis, No 03-04, Th. Ke-50, Maret-April, 2001, hlm. 18-19). Jadi, bukan soal bahwa kebersamaan yang saat ini dapat dinikmati berasal dari kehangatan rahim Pancasila (Kompas, 2 Juni 2022), melainkan justru lantaran sebagian besar warga di republik ini yang tak pernah lelah, apalagi kalah, untuk menyuarakannya.

 

 

Imajinasi atau keterbayangan adalah sesuatu yang ‘ada’, meskipun tidak dapat dilihat. Imajinasi mengenai bangsa dapat dilihat dari berbagai ideologi, harapan, dan artefak yang hidup di masyarakat. Sampai saat ini, imajinasi mengenai bangsa yang telah diturunkan dari pendahulu kita yaitu berupa pemahaman umum tentang nasionalisme. Imaginasi ini menjadi simbol integritas negara dan menjadi kekuatan psikologis bagi masyarakat yang menghidupi nilai-nilainya.

 

Masyarakat mengelu-elukan kedatangan Presiden dan histeris dalam menyambut perayaan 1 Juni yang menjadi hasil pemikiran dari Bung Karno ketika dibuang di Ende. Meskipun memiliki latar belakang yang berbeda dan tidak saling mengenal, mereka sama-sama berada dalam ‘masyarakat’. Di sini sekali lagi, mereka disatukan oleh bayangan mengenai sebuah bangsa (lihat, Anderson, 2001, op.cit., hlm. 38).

 

Sekurang-kurangnya kehadiran Presiden Jokowi di Ende telah menunjukkan pada kita yang belakangan melabeli diri sebagai negara yang merdeka, bahwa rupanya wilayah yang jarang dijamahpun kini mulai diperhatikan. Ini telah memberikan satu lagi bukti bahwa sebagai seorang pemimpin negara-bangsa, Joko Widodo lebih tepat disebut sebagai seorang pejuang (penyambung lidah) rakyat. Praksis perhatian terhadap seluruh masyarakat Indonesia seperti inilah yang diharapkan rakyat terhadap pemimpinnya sebagai si penyambung lidah rakyat (lihat, Siegel, 2001, loc.cit..).

 

 

Staf Litbang L.S.Realino: Windarto & Luluk D Handayani